Bayern Munchen belum lama meraih gelar jawara Bundesliga dibawah asuhan Carlo Ancelotti. Bayern pula sebagai tim Jerman pertama yang memenangi Bundesliga 5 musim berturut-turut dan ini adalah gelar liga mereka ke-26 juga. Ancelotti sebagai pelatih pertama yang sanggup meraih titel juara liga di 4 dari 5 liga terbesar Eropa. Walaupun begitu, ia pun mendapat kritik sebab timnya tidak tampil begitu impresif walau dibekali pemain berkualitas. Seluruh pemain Bayern sepertinya masih belum bisa nyetel juga sepenuhnya dengan gaya bermain yang diharapkan Ancelotti. Akibatnya ada sebagian pemain yang penampilannya terlihat menurun dibanding musim sebelumnya. Berikut ini ada pemain Bayern Munchen yang bukannya naik daun malah mereduo dibawah asuhan Carlo Ancelotti seperti dilansir Squawka.

Thomas Muller

Pada musim 2015/2016, Thomas Muller sebagai pemain tersubur di Eropa usai mencetak 32 gol tuk pertama kali dalam karirnya. Muller perform luar biasa dan di usia 27 tahun ia terkesan siap demi memasuki masa puncaknya. Tetapi, dibawah asuhan Carlo Ancelotti, performa Muller justru terkesan buruk. Ia memang menelorkan assist 2 kali lipat dibandingkan musim kemarin (10 vs 5) namun ketajamannya justru merosot drastis (8 vs 32).

David Alaba

Dibawah Josep Guardiola, David Alaba berevolusi sangat pesat. Dia tadinya sudah jadi salah satu defender remaja yang sangat menjanjikan di dunia, tetapi dengan tangan dingin Guardiola, Alaba berganti dari bek kiri dan bek tengah bermutu jadi bek kiri dan bek tengah kelas dunia serta gelandang tengah yang mumpuni. Apa yang tak bisa dilakukan Alaba? Dia bisa menyarangkan gol, memberi assist, bertahan dari pemain yang sedikit besar dari dirinya. Dia memiliki kecepatan, kemampuan set-piece juga mental dalam laga akbar. Semua atribut yang diharapkan pelatih. Tetapi, dibawah Ancelotti, Alaba bahkan tak bisa menyamai permainannya hingga diambil alih Guardiola.

Juan Bernat

Direkrut Josep Guardiola, Bernat membangun eks pelatih Barcelona itu bereksperimen dari formasi 3-4-2-1. Dengan begitu, Alaba digeser ke tengah alias pemain Austria itu lagi diistirahatkan. Bernat adalah pemain berkualitas. Tetapi, tanpa Guardiola, penampilan Bernat turun. Pemain Spanyol itu bisa saja mengakhiri musim ini dengan menit main lebih sedikit dibanding musim lalu 1.850 menit (dan total tersebut juga sempat dibatasi cedera serius) dan tidak mampu mengganti Alaba yang penampilannya turun.

Philipp Lahm

Josep Guardiola sempat menyebut Philipp Lahm menjadi pemain paling kompeten yang pernah bekerja sama bersamanya dan dibawah tangan dinginnya, Lahm bukanlah hanya menjadi bek kanan kelas dunia namun gelandang bertahan kelas dunia juga. Dibawah Carlo Ancelotti, penampilan Lahm tak tampak efektif seperti normalnya. Lahm sudah memilih pensiun di akhir musim sehingga amat disayangkan ia tak bisa bermain lebih lama lagi tuk memperbaiki performanya kepada Ancelotti.

Douglas Costa

Dianggap menjadi pemain yang belum terlampau dikenal ketika ada di Shakhtar Donetsk, Guardiola sanggup mengambil resiko dengan memasukannya ke Bayern Munchen. Namun resiko itu terbayar lunas sebab Costa mampu memberi kecepatan serta permainan efektif di bagian sayap. Tak ada yang meragukan skill Douglas Costa ketika meneror pertahanan musuh. Tetapi, musim ini Costa malah kesulitan mengulang penampilan impresifnya. Costa kerap menghuni bangku cadangan hingga kesulitan memperlihatkan permainan apiknya. Costa tidak banyak bermain pun bukan karena cedera. Ancelotti lebih gembira memainkan Frank Ribery, ataupun Arjen Robben. Hal ini menjadikan Costa musti berada di bangku cadangan dan kesusahan membuat dampak besar tuk timnya.